Manusia dan Penderitaan

Posted: May 14, 2013 in Uncategorized

Penderitaan atau kesengsaraan dalam erti kata luas bermakna pengalaman afektif kesusahan and keperitan seseorang individu. Penderitaan boleh jadi berbentuk fisikalatau mental. Keamatannya berbeza-beza, daripada ringan hinggalah tidak tertahan. Faktor masa dan kekerapan lazimnya memburukkan lagi keadaan. Selain faktor-faktor ini, sikap seseorang terhadap penderitaanya mungkin mengambil kira aspek berapa banyak kesengsaraan itu, adakah ia boleh dielakkan, kegunaannya dan sama ada ia berpatutan.

Orang yang menderita adalah orang yang mengalami suatu peristiwa yang sangat menyakitkan yang tidak diharapkannya atau tidak diduganya. Dan memang itulah salah satu ciri atau karakteristik dari penderitaan yaitu penderitaan datang menimpa kita di saat kita tidak siap. Jadi kalau orang bertanya bagaimanakah mempersiapkan diri untuk menderita, saya kira jawabannya adalah kita tidak bisa benar-benar mempersiapkan diri, sebab kalau kita pikir memang kita tidak akan pernah siap untuk menderita. Sigmund Freud menelorkan suatu teorinya yang berkata bahwa manusia itu bergerak menjauhkan diri dari penderitaan atau rasa sakit dan mendekati atau mendekatkan diri pada yang nikmat, maka prinsipnya itu disebut prinsip kenikmatan. Jadi memang pada dasarnya kita makhluk yang tidak suka dengan penderitaan.

Beberapa jenis penderitaan :

  • Kita menderita karena gangguan/perbuatan iblis
  • Kita menderita karena perbuatan orang lain, kelalaian maupun kejahatan orang lain. Misalnya kita tertabrak, kita dirampok dsb.
  • Menderita karena hukuman atas perbuatan dosa.
  • Kita menderita karena kita dalam perjuangan melawan atau sedang mengatasi pencobaan.
  • Kita menderita karena alam di mana kita tinggal sudah tercemar tidak lagi berimbang. Misalnya karena bencana alam, banjir.
  • Kita menderita karena kemanusiaan kita misalnya kematian. Kematian adalah bagian dari kemanusiaan kita.

Ada beberapa tahapan yang biasa terjadi sewaktu kita mengalami musibah :

  • Kita marah sekali, tidak terima kenapa kita harus mengalami ini.
  • Menyadari bahwa penderitaan itu tidak bisa kita elakkan dan tidak bisa lagi kita tawar-menawar jadi harus kita hadapi.
  • Depresi, kita akhirnya dirundung oleh kesedihan yang luar biasa, tiba-tiba hidup kita ini tidak lagi ada artinya.
  • Penerimaan, tahap ini adalah tahap di mana kita akhirnya berhasil mengatakan ya saya menerima.

Yang perlu kita lakukan untuk menyikapi penderitaan yang menimpa kita :

  • Tidak tergesa-gesa mencari tahu siapa yang bersalah, siapa yang bertanggung jawab dalam penderitaan kita. Kita lihat dulu apa yang sedang kita derita, jenis apa setelah itu baru kita bisa menyikapinya. Kita mempunyai 3 sikap ekstrim yaitu menyalahkan Tuhan, menyalahkan orang lain dan menyalahkan diri sendiri.
  • Kita lihat dulu apa yang sedang kita derita, jenis apa setelah itu baru kita bisa menyikapinya. Misalnya adanya gempa bumi rumah kita runtuh, dalam keadaan seperti ini kita tidak usah menyalahkan siapapun, tidak menyalahkan Tuhan, tidak menyalahkan orang lain, tidak menyalahkan diri sendiri.

Siksaan atau penyiksaan (Bahasa Inggris: torture) digunakan untuk merujuk pada penciptaan rasa sakit untuk menghancurkan kekerasan hati korban. Segala tindakan yang menyebabkan penderitaan, baik secara fisik maupun psikologis, yang dengan sengaja dilakukkan terhadap seseorang dengan tujuan intimidasi, balas dendam, hukuman, sadisme, pemaksaan informasi, atau mendapatkan pengakuan palsu untuk propaganda atau tujuan politik dapat disebut sebagai penyiksaan. Siksaan dapat digunakan sebagai suatu cara interogasi untuk mendapatkan pengakuan. Siksaan juga dapat digunakan sebagai metode pemaksaan atau sebagai alat untuk mengendalikan kelompok yang dianggap sebagai ancaman bagi suatu pemerintah. Sepanjang sejarah, siksaan telah juga digunakan sebagai cara untuk memaksakan pindah agama atau cuci otak politik.

Siksaan Fisik Berpotensi Sakit Kronis. Anak-anak yg mendapatkan siksaan fisik atau emosi serta pernah diabaikan lebih berisiko mengalami migrain dan rasa sakit kronis lainnya ketika dewasa. Peneliti dari University of Toledo Medical Center di Ohio menemukan, stres akibat siksaan bisa mengganggu otak anak. Gangguan otak ini membuat mereka lebih berisiko mengalami rasa sakit kronis dari kondisi seperti sindrom gangguan usus (irritable bowel syndrome), sindrom kelelahan kronis (chronic fatigue syndrome), rasa sakit pada otot dan jaringan penghubung (fibromyalgia), interstitial cystitis (penyakit kandung kemih yg ditandai dengan rasa sakit saat buang air) dan radang sendi. “Stres di masa anak-anak bisa mengganggu respon stres tubuh secara permanen dan mempengaruhi berbagai kondisi medis dan psikologis saat dewasa,” terang pemimpin studi Dr. Gretchen E. Tietjen, seperti dikutip situs healthday. Menurut Tietjen, sangat wajar jika orang-orang yg telah disiksa mengalami berbagai kondisi yg melemahkan, termasuk migrain.

“Hubungan ini disebabkan oleh perubahan otak terkait penyiksaan yg terjadi di awal kehidupan.” Dan memahami efek penyiksaan psikologis terhadap otak, terang dia, bisa memicu tindakan pencegahan atau penemuan terapi yg lebih efektif utk mengatasi migrain dan kondisi lain yg terkait. Akan tetapi, lanjut dia, tak semua anak yg mendapatkan siksaan mengalami migrain dan tak semua penderita migrain atau kondisi sakit lainnya pernah disiksa sebelumnya. “Tapi mereka yg pernah disiksa lebih berisiko mengalami migrain berat. Mereka juga lebih berisiko menderita penyakit lain yg menimbulkan rasa sakit.”

Dalam kehidupan agama, ada dua macam penderitaan, yakni penderitaan syar’iyyah dan penderitaan samawiyah. Penderitaan syar’iyyah antara lain shalat, puasa, haji dan zakat. Untuk menjalankan shalat, manusia terpaksa menghentikan segala urusannya yang lain, apalagi kalau harus pergi ke masjid. Pada saat musim dingin, harus bangun pada waktu akhir malam menjelang fajar. Pada waktu Ramadhan, seharian penuh harus menahan lapar dan haus. Waktu menunaikan haji, harus memikul berbagai kesulitan dalam perjalanan. Dalam menunaikan zakat, harus menyerahkan sebagian hasil usaha dan cucuran keringat kepada orang lain.

Ini semua adalah penderitaan syar’iyyah, yang merupakan penyebab adanya pahala bagi manusia. Lagi pula akan memperdekat langkahnya ke arah Tuhan. Namun demikian dalam semua masalah itu manusia diberi satu kelonggaran. Manusia diperbolehkan mencari cara yang cocok dan mudah baginya. Di waktu musim dingin, boleh saja memanaskan air untuk berwudhu. Karena menderita sakit tertentu dan tidak dapat menjalankan shalat dengan berdiri, maka shalat itu dapat dilakukan dengan duduk. Pada bulan ramadhan, di waktu sahur orang dapat bangun lalu makan sepuasnya. Bahkan sebagian orang pada bulan ramadhan lebih banyak mengeluarkan biaya konsumsi daripada hari-hari biasa di luar bulan ramadhan. Jadi dalam mengalami penderitaan syar’iyyah itu, sedikit banyak manusia juga memperoleh keringanan. Oleh karena itu, dengan penderitaan syar’iyyah saja manusia belum bias mencapai kesucian ruhani secara sempurna dan tidak mungkin secepatnya meraih taraf taqarub billaah (dekat dengan Allah).

Penderitaan samawi yang turun dari langit, bila telah tiba manusia tidak berwenang untuk memilih dan menghindarinya. Mau tidak mau, manusia terpaksa harus memikul dan menanggungnya. Oleh karena itu, dengan pengalaman tersebut manusia bias mencapai tingkatan dekat dengan Allah. Untuk meningkatkan derajat manusia, ditetapkan juga penderitaan samawiyyah. Sehubungan dengan itu Allah Ta’ala menjelaskan dalam Qur’an Syarif :

“Sesungguhnya Kami akan menguji kamu dengan sesuatu dari ketakutan dan kelaparan dan kehilangan harta dan jiwa dan buah-buahan. Dan berilah kabar baik ikepada orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila suatu musibah menimpa mereka, mereka berkata: Sesungguhnya kami ini milik Allah, dan kami akan kembali kepadaNya. Inilah orang yang memperoleh karunia dan rahmat dari Tuhan mereka. Dan inilah orang yang terpimpin pada jalan yang benar” (QS AlBaqarah 2: 155-156).

Dalam ayat al-Qur’an di atas, disebutkan beberapa macam penderitaan samawi, misalnya penderitaan karena kerugian harta dalam bisnis, tokonya rusak atau kecurian. Penderitaan karena kerugian dari tanaman dan buah-buahan yang rusak karena dimakan hama. Penderitaan karena putra buah kasihnya meninggal dunia. Dalam istilah Arab, anak disebut juga tsamar (buah). Cobaan karena anak terasa amat menyusahkan. Akan tetapi Allah Ta’ala bukanlah kejam. Selama seseorang yang terlibat dalam kesulitan dan penderitaan itu sabar, maka kian bertambah kesabarannya, pahalanya juga semakin banyak. Allah Ta’ala adalah Maha pengasih lagi Maha pengampun. Allah melimpahkan penderitaan pada manusia itu bukanlah bermaksud agar manusia memikul penderitaan semata-mata, akan tetapi agar supaya manusia memajukan langkah dan semakin meningkat derajatnya. Kata para ahli sufi, bahwa di saat cobaan tiba, orang fasiq akan mengundurkan langkah (putus asa), tetapi bagi orang yang shalih akan semakin memajukan langkahnya.

Hubungan derita dengan kehidupan

Penderitaan banyak sekali hubungannya dengan alam pikiran seseorang, dan trauma-trauma masa lalu yang mengendap pada jiwanya, beberapa kaitan yang di jabarkan Suwardi Tanu dalam bukunya ‘Hidup Tenang berdasarkan DAK’ beliau menjabarkan demikian, Derita atau penderitaan muncul berkaitan dengan Rejeki, kesehatan dan harga diri.

Rasa derita yang muncul karena disebabkan oleh rejeki, umumnya lebih berkaitan dengan fisik, sebaagi contoh sederhana yang banyak bisa kita lihat, penderitaan seorang anak jalanan yang kelaparan dan hidup menderita di bawah kolong jembatan.

Rasa derita yang berkaitan dengan kesehatan, umumnya kita melihat derita penderita kanker stadium akhir, sel-sel tubuh yang memberontak dalam pertahanan hidup sendiri membuat penderitaan yang tiada tara, kesakitan, kerapuhan jiwa dan keputus-asaan menjadi rentetan penderitaan yang dialami.

Sumber :

http://id.wikipedia.org

http://mochoy2010.blogspot.com/2011/04/jenis-penderitaan-manusia.html

http://www.herbalengkap.com/76/06/60/siksaan-fisik-berpotensi-sakit-kronis.htm

http://ahmadiyah.org/hikmah-penderitaan-dalam-kehidupan/

http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2011/06/26/penderitaan-bagaimana-kita-menyikapinya-376362.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s