Sistem Ekonomi Indonesia

Posted: April 3, 2014 in Uncategorized

Pembicaraan tentang sistem ekonomi cukup sering melibatkan para tokoh pemikir bangsa Indonesia. Misalnya pada bulan Oktober 1977, sejumlah tokoh termasuk bapak koperasi, Dr. Moh. Hatta, berdiskusi dalam seminar “Penjabaran Pasal 33 UUD 1945”. Pada tahun 1981 berbagai pemikiran tentang Ekonomi Pancasila berkembang dalam semacam “dialog nasional” mengenai sistem ekonomi yang ideal yang sesuai dengan jiwa Pancasila dan UUD 1945.

Kesimpulan seminar tahun 1977 adalah bahwa Pasal 33 UUD 1945 adalah “politik ekonomi” untuk mewujudkan sistem Ekonomi Sosialisme Pancasil, di mana melalui perencanaan ekonomi nasional dikembangkan mekanisme yang harmonis untuk mengatur perilaku sekotr-sektor koperasi, usaha negara, dan usaha swasta dalam perekonomian nasional.

Sistem Ekonomi Indonesia

Pembangunan ekonomi nasional harus juga berarti pembangunan sistem ekonomi yang kita anggap paling cocok bagi bangsa Indonesia. Hal ini sudah disepakati besama. Tetapi, nampaknya faktor manusia dalam pembangunan sistem ekonomi tersebut belum mendapat perhatian semestinya, bahkan lebih merisaukan lagi, sistem ekonomi itu sendiri sering dianggap kurang penting dibanding upaya membangun perekonomian nasional yang kuat dan tangguh. Baru apabila kita sadari pentingnya pembangunan sistem ekonomi, maka pasti disadari pula peranan manusia sebagai komponen pokok dalam sistem ekonomi tersebut.

Karena ideology bangsa Indonesia adalah Pancasila, dan karena pembangunan ekonomi kita anggap paling utama dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, maka sudah semestinya kita menggunakan Pancasila sebagai landasan filosofis penyusunan sistem ekonomi nasional yang tangguh tersebut. Itulah yang kita usulkan untuk disebut sebagai sistem Ekonomi Pancasila dengan cirri-ciri yang kita turunkan dari sila-sila Pancasilas, sebagai berikut :

  1. Roda perekonomian digerakkan oleh rangsangan Ekonomi, sosial dan moral.
  2. Ada kehendak kuat dari seluruh anggota masyarakat untuk mewujudkan keadaan kemerataan sosial-ekonomi.
  3. Prioritas kebijaksanaan ekonomi adalah pengembangan ekonomi nasional yang kuat dan tangguh, yang berarti nasionalisme selalu menjiwai setiap kebijaksanaan ekonomi.
  4. Koperasi merupakan sokoguru perekonomian nasional.
  5. Adanya imbangan yang jelas dan tegas antara sentralisme dan desentralisme kebijaksanaan ekonomi untuk menjamin keadilan ekonomi dan keadilan sosial dengan sekaligus menjaga prinsip efisiensi dan pertumbuhan ekonomi.

Sistem Ekonomi Pancasila adalah ekonomi nasional Indonesia yang sedikit demi sedikit mampu menemukan kembali ciri kepribadian ekonomi yang pernah ada, bahkan sebelum sistem-sistem dari Barat dan Timur mulai merasuk ke dalam perekonomian Indonesa, baik melalu praktek penjajahan, maupun melalui pengaruh-pengaruh intelektual para pemikir dan pemimpin bangsa.

Sistem Ekonomi Nasional Indonesia (SENI) yang sesuai dengan amanat pasal 33 UUD 1945 adalah sistem ekonomi usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan. Berjalannya satu sistem ekonomi nasional yang baik yang mampu mencapai sasaran-sasaran yang ditetapkan, memerlukan dua persyaratan dasar yaitu pertama, setiap pelakunya bias dan mampu melakukan fungsi tugasnya secara baik dan optimal dan kedua, ada politik ekonomi/politik perekonomian yang mampu mengarahkan.

Mengingat etika ekonomi Pancasila yang telah diuraikan, kita bias menegaskan bahwa apa yang diatur oleh Pasal 33 UUD 1945 adalah sistem ekonomi yang dimaksud, sedangkan sila-sila Pancasila merupakan kerangka landasan politik ekonomi yang memberikan semangat dan arah gerak pereonomian nasional.

Kita sering bertanya-tanya, apabila SENI adalah sistem ekonomi koperasi atau sistem ekonomi kekeluargaan, mengapa penerimaan kembali UUD 1945 pada tahun 1959 tidak menjamin pelaksanaan sistem ekonomi tersebut? Sebabnya adalah pelaksanaan sistem ekonomi memerlukan politik perekonomian yang mantap yang didasarkan pada ajaran/falsafah Pancasila. Pancasila dalam politik perekonomian tidak ada, sehingga terjadi penyimpangan-penyimpangan bahkan penyelewengan-penyelewengan, khususnya yang menjurus ke ekonomi etatisttik atau ekonomi serba-negara yang mematikan daya kreasi serta usaha rakyat/masyarakat.

Suatu cara efektif efektif dalam mengendalikan perekonomian agar tidak menjurus ke etatisme adalah dengan mengembangkan sektor swasta yang bias menjadi pembanding atau saingan sektor negara yang bias merangsang upaya-upaya peningkatan efisiensi. Selain itu penguasaan negara atas cabgang-cabang produksi perlu dibatasi pada hal-hal yang benar-benar penting bagi negara dan benar-benar menguasai hajat hidup orang banyak, yang pengaturannya perlu diatur dengan undang-undang.

Selain itu, cara yang cukup efektif untuk membatasi kegiatan ekonomi negara agar tidak menjurus ke etatisme adalah pengawasan atau penilikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat secara terus-menerus. Pengawasan oleh DPR dan BPK, apabila dilaksanakan dengan baik juga akan mampu mengarahkan gerak usaha kegiatan-kegiatan yang produktif dan efisien. Untuk itu memang diperlukan DPR yang aktif dan bermutu tinggi atau yang mampu mengarahkan keahlian yang diperlukan bagi pelaksanaan tugas-tugasnya dalam melakukan pengawasan.

Di samping itu, sektor swasta perlu dibagi dua, yaitu sektor swasta kuat yang dewasa ini cukup besar peranannya dalam perekonomian termasuk swasta asing dan swasta kecil, termasuk sektor informal. Bagi sektor swasta kuat, pemerintah perlu berhati-hati untuk menjaga keseimbangan dalam kebijaksanaanya yaitu membebaskan dengan sekaligus mengendalikannya apabila ternyata menjurus ke pemusatan-pemusatan ekonomi yang bersifat monopolistik atau oligopolistik.

Pemerintah memiliki peranan yang penting sama hal nya dengan swasta. Namun peranan penting tersebut tidak berarti dominan. Peranan yang penting namun tidak dominan dari pemerintah dan swasta tersebut bertujuan agar tidak terjadinya sistem ekonomi komando yang hanya dimonopoli oleh beberapa pihak saja dan juga menghindari adanya sistem ekonomi pasar bebas yang sebebas-bebasnya.

Sistem ekonomi Indonesia berdasarkan pada asas kekeluargaan sehingga hal itu menjadikan perekonomian di Indonesia tidak hanya didominasi oleh faktor modal saja, namun juga didominasi oleh keberadaan buruh yang juga dianggap memiliki peranan yang sama pentingnya. Semua perekonomian dilaksanakan oleh rakyat, dan untuk rakyat dibawah pengawasan dari pemerintah, semua kekayaan alam Indonesia yang mencakup bumu, air dan udara di Indonesia sepenuhnya dikuasai oleh negara yang dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat.

Sumber-sumber kekayaan alam dan keuangan yang dimilika oleh negara dimanfaatkan dengan dasar mufakat dari lembaga perwakilan rakyat yang mendengarkan aspirasi rakyat, dan diawasi oleh kebijakan yang dibuat oleh lembaga perwakilan rakyat pula. Seluruh warga negara Indonesia memiliki hak untuk menentukan pekerjaan yang akan dilakukan dan semua warga negara memiliki hak untuk mendapat kelayakan hidup.

Sistem Ekonomi Indonesia adalah sistem Ekonomi Pancasila yang bias pula disebut sistem Ekonomi Koperasi, yang keduanya tidak bias tidak akan harus merupakan penjabaran Pasal 33 UUD 1945. Meskipun pada dasarnya isi dan jiwa pasal 33 itu sudah selalu menjadi pedoman pelaksanaan sistem ekonomi kita dari waktu ke waktu, namun dalam praktedk, pengejaran tujuan politik ekonomi jangka pendek bias kadang-kadang tanpa disadari menjauhkan kita dari garis-garis besar sistem ekonomi nasional tersebut.

Keterbukaan perekonomian Indonesia dan keterkaitannya dengan perekonomian dunia sering memberikan peluang kepada kita untuk mengabaikan prinsip-prinsip dasar sistem ekonomi tersebut demi pragmatisme pemecahan masalah-masalah ekonomi jangka pendek.

Sumber :

Mubyarto. Sistem dan moral ekonomi Indonesia. Jakarta. PT Pustaka LP3ES Indonesia. 1988

http://www.ekonoomi.com/2013/10/sistem-ekonomi-indonesia-sekarang-ini.html

 

 

Kerjasama Tim Perusahaan

Posted: October 23, 2013 in Uncategorized

Sebuah organisasi, misalnya sebuah perusahaan, harus memiliki satu visi dan misi untuk menyatukan gerak langkah anggotanya dalam mencapai tujuan. Seluruh anggota atau karyawan perusahaan harus memiliki misi yang sama sehingga akan terjadi kesamaan gerak menuju tercapainya misi dan terjalinnya kerjasama tim yang kua­t antar karyawan.

Kadang kala, terjadi ketidaksamaan misi antara perusahaan dengan karyawan. Perusahaan memiliki misi mengejar keuntungan sebesar-besarnya, sedangkan karyawan mempunyai misi mencari gaji, jabatan, dan penghargaan setinggi-tingginya. Kondisi ini akan membuat perusahaan hancur dengan sendirinya. Untuk menghindari hal tersebut, masing-masing harus menyadari tujuan perusahaan. Bila kesamaan tujuan telah dicanang­kan maka semua langkah akan seiring dan sejalan.

Kerjasama Tim

Menurut Pamudji dalam bukunya yang berjudul “Kerjasama Antar Daerah” (1985:12-13).
Kerjasama pada hakekatnya mengindikasikan adanya dua pihak atau lebih yang berinteraksi secara dinamis untuk mencapai suatu tujuan bersama. Dalam pengertian itu terkandung tiga unsur pokok yang melekat pada suatu kerangka kerjasama, yaitu unsur dua pihak atau lebih, unsur interaksi dan unsur tujuan bersama. Jika satu unsur tersebut tidak termuat dalam satu obyek yang dikaji, dapat dianggap bahwa pada obyek itu tidak terdapat kerjasama.
Unsur dua pihak, selalu menggambarkan suatu himpunan yang satu sama lain saling mempengaruhi sehingga interaksi untuk mewujudkan tujuan bersama penting dilakukan. Apabila hubungan atau interaksi itu tidak ditujukan pada terpenuhinya kepentingan masing-masing pihak, maka hubungan yang dimaksud bukanlah suatu kerjasama. Suatu interaksi meskipun bersifat dinamis, tidak selalu berarti kerjasama. Suatu interaksi yang ditujukan untuk memenuhi kepentingan pihak-pihak lain yang terlibat dalam proses interaksi, juga bukan suatu kerjasama. Kerjasama senantiasa menempatkan pihak-pihak yang berinteraksi pada posisi yang seimbang, serasi dan selaras.

Manfaat Kerjasama TIm :

1. Dapat membangun komunikasi yang baik antara team members dan atasan.
2. Meningkatkan suatu produktivitas dan kreativitas sebuah team.
3. Team members termotivasi untuk mencapai goals yang sudah ditentukan.
4. Membentuk kerjasama dan penyatuan dalam memecahkan masalah.
5. Kepuasan dan komitmen pada pekerjaan meningkat.
6. Kepercayaan dan support meningkat.
7. Dapat menyatukan karyawan yang berbeda-beda.
8. Memperjelas pekerjaan masing-masing.
9. Memperlancar jalannya peraturan dan prosedur yang ada.

Kekompakan Tim
Seorang manajer atau pemimpin seyogianya lebih berpikir keras untuk mempersiapkan dan menciptakan tim-tim siap tempur yang kompak, sekaligus termotivasi untukmemacu prestasi karena sadar betapa besar misi sekaligus ancaman yang ada di hadapan mereka. Ada beberapa karakteristik yang yang harus menyertai sebuah tim agar selalu berkarya dalam kekompakan dan keterpaduan yang solid sehingga dapat mencapai sukses:
- Memiliki tujuan yang sama
- Memiliki komitmen yang sama terhadap hal-hal kecil
- Selalu memantau kemajuan
- Saling tergantung dan percaya
- Bahasa yang umum
- Setiap personil tahu peran masing-masing dan bagaimana menjalankan peran itu
- Setiap orang bermain
- Berbagi keberhasilan

Dalam kerjasama tim ada beberapa hal yang harus di hindari seperti sifat egois atau memikirkan kepentingan individu, sebab sikap tersebut dapat menghancurkan sebuah kerjasama tim yang solid dan kita harus bisa mengesampingkan dan mengutamakan kepentingan bersama.  Selain itu pemimpin yang tidak bijaksana juga bisa membuat anggota tim tidak betah dan membuat semangat kerja mereka menurun sehingga dapat merugikan perusahaan. Sebagai pemimpin harus mau menerima pendapat maupun ide-ide kemudian untuk diambil keputusan demi tujuan bersama.

Sikap terbuka antara anggota tim bisa saling mengkritik (kritik yang membangun), sika[ terbuka antar anggota tim dapat meningkatkan motivasi dan meningkatan kreartifitas demi kemajuan perusahaan dan tanpa toleransi tim yang sekuat apapun pasti tidak akan bertahan lama. Kemudian sikap saling menghormati juga dibutuhkan demi bertahannya sebuah anggota tim, sikap saling menghargai dapat dilihat dari cara seseorang mendengarkan ide yang kita kemukakan. Jika seorang tersebut tidak menghargai anda, maka ia akan bersika cuek dan tidak memperdulikan pendapat anda.

Setiap hal yang dilakukan oleh anggota tim harus berdasarkan atas kepentingan tim, tidak boleh ada unsur pribadi dalam setiap melaksanakan pekerjaan. Tugas pemimpin adalah memastikan bahwa setiap anggota tim yang terlibat dalam melaksanakan tugas harus sesuai dengan kesepakatan tim dan tugas tersebut diselesaikan tepat pada waktunya. Sesekali adakan acara berkumpul bersama untuk meningkatkan kekompakan tim, sehingga hubungan antar sesama anggota menjadi semakin kuat. Setiap acara yang dibuat harus melibatkan setiap anggota tim, tujuannya adalah menjalin hubungan antar anggota tim dan memperkuat kerjasama tim.

Intinya, sebuah tim bukan seberapa banyak anggota yang dimiliki, namun sejauh mana tingkat keterikatan di antara anggota untuk membangun kekuatan baru. Satu alat penting untuk meningkatkan kualitas keterikatan anggota tim adalah dengan komunikasi. Komunikasi merupakan urat nadi yang menyalurkan aspirasi masing-masing anggota dalam rangka pencapaian target yang telah ditetapkan. Dengan komunikasi yang intens, semua hambatan, tantangan,  kesulitan, dan masalah dapat diselesaikan sehingga keberhasilan akan tercapai.

Sumber :

Pamudji, S. Kerjasama Antar Daerah. Jakarta. PT. Bina Aksa. 1985

http://businesslounge.co/2013/07/10/pentingnya-team-building-dalam-perusahaan/

http://sbpindonesia.wordpress.com/about/

http://kerjayuk.com/inspiration/tips-membangun-kerja-sama-tim

http://www.jurnalmedika.com/edisi-tahun-2011/edisi-no-02-vol-xxxvii-2011/281-dari-redaksi/522-kerjasama-tim-kunci-keberhasilan-sebuah-perusahaan

Teori Organisasi

Posted: October 4, 2013 in Uncategorized

Sebuah organisasi sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, seperti yang kita tahu bahwa manusia bukanlah makhluk individu yang bias bertahan hidup sendiri. Dengan bergabungnya seseorang dalam organisasi akan memudahkan membangun kekuatan untuk meraih sesuatu yang besar. Karena berkelompok memunculkan kekuatan, maka tentu saja akan memudahkan pencapaian tujuan.

Beberapa pendapat tentang arti Organisasi :

  1. Oliver Sheldon (1923)Organisasi adalah proses penggabungan pekerjaan yang para individu atau kelompok harus melakukan dengan bakat-bakat yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas, sedemikian rupa, memberukan saluran terbaik untuk pemakaian yang efisien, sistematis, positif, dan terkoordinasikan dari usaha yang tersedia.
  2. James D.Mooney (1947)Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk pencapaian tujuan bersama.
  3. John D.Miller (1954)Organisasi adalah orang-orang yang bekerjasama dan dengan demikian ini mengandung cirri-ciri dari hubungan-hubungan manusia yang timbul dalam akticitas kelompok.
  4. John Price Jones (1955)Organisasi adalah struktur dan peralatan yang tersusun dari orang-orang dan benda-benda denmgan mana suatu usaha berencana yang teratur dijalankan.
  5. Dwight Waldo (1956)Organisasi adalah struktur hubungan-hubungan di antara orang-orang berdasarkan wewenang dan bersifat tetap dalam suatu system administrasi.
  6. Herbert A.Simon, Donald W.Smithburg, dan Victor A.Thompson (1956)Organisasi adalah suatu sistem terencana mengenai usaha kerjasama dalam mana setiap peserta mempunyai peranan yang diakui untuk dijalankan dan kewajiban-kewajiban atau tugas-tugas dilaksanakan.
  7. Joseph B.Kingsbury & Robert F.Wilcox (1961)Organisasi dapat dirumuskan sebagai proses membagi-bagi pekerjaan, mengatur para pegawai untuk memikul pekerjaan dari badan usaha.
  8. Chester I.Barnard (1968)Organisasi adalah sistem kerjasama yang kompleks dari unsur pisik, biologis, pribadi, dan sosial yang ada dalam hubungan teratur yang khusus yang beralasan dari kerjasama dua orang atau lebih.

Organisasi Perusahaan

Persyaratan yang harus dipenuhi organisasi agar dapat menjadi sistem yang sepenuhnya berfungsi menurut Dalton ada enam elemen pokok. Pertama bahwa harus ada produksi, entah barang atau jasa. Kedua, harus ada usaha penjualan yang menjamin penyampaian barang atau jasa kepada mereka bagi siapa perancang barang atau jasa itu diperuntukkan. Ketiga, harus ada suatu usaha perancangan dan pengembangan yang memastikan bahwa produk dapat memenuhi kebutuhan pelanggan dan sesuai dengan perubahan yang terjadi pada kebutuhan itu. Keempat yaitu sistem administrasi dan pengendalian yang mengandalkan komunikasi yang efektif dan pengambilan keputusan. Kedua elemen terakhir yaitu sistem hadiah dan hukuman dan filsafat perusahaan. Filsafat perusahaan penting untuk menciptakan sikap yang tepat pada masing-masing anggota dan mengokohkan motivasi yang telah diberikan melalui cara-cara lain seperti hadiah dan hukuman.

Beberapa unsur kunci dalam membuat keputusan dalam pengorganisasian yaitu :

  1. Pembagian kerja, adalah membagi seluruh beban pekerjaan menjadi tugas yang secara wajar dan nyaman dapat di laksanakan dengan penuh tanggung jawab.
  2. Departmentalisasi yaitu pengelompokan kegiatan-kegiatan kerja suatu organisasi agar saling berhubungan dapat di kerjakan bersama.
  3. Menetapkan siapa yang membuat laporan, kepada siapa laporan disampaikan.
  4. Koordinasi, adalah mekanisme yang menyatukan kegiatan departemen menjadi satu kesatuan dan memantau efektivitas integrasi tersebeut.

Beberapa contoh bentuk organisasi :

  • Bentuk organisasi tunggal adalah organisasi yang pucuk pemimpinannya ada di tangan seorang. Sebutan jabatan untuk bentuk struktur organisasi tunggal antara lain Presiden, Direktur, Kepala, Ketua.
  • Bentuk organisasi jamak adalah organisasi yang pucuk pimpinannya ada di tangan beberapa orang sebagai satu kesatuan seperti Presidium, Direksi, Dewan, dll.
  • Bentuk organisasi jalur adalah organisasi yang wewenang dari pucuk pimpinan dilimpahkan kepada satuan-satuan organisasi dibawahnya dalam semua bidang pekerjaan.
  • Bentuk organisasi fungsional adalah organisasi yang wewenang dari pucuk pimpinan dilimpahkan kepada satuan-satuan organisasi dibawahnya dalam bidang pekerjaan tertentu.

Setiap perusahaan yag mau berhasil harus tahu akan bidang-bidang yang member kemungkinan terbesar untuk berhasil. Tanpa adanya tujuan perusahaan tak mempunyai rencana maka tak aka nada ketentuan tentang perkembangan. Tanpa sasaran mustahilah suatu perusahaan menilai prestasi dan ketepatan metode dan strukturnya, dengan cara yang pasti. Perusahaan harus menentukan sasarannya, harus meneliti apakah sasaran itu bermanfaat dan dapat dicapai, kemudian mengadakan organisasi untuk mencapainya.

Alasan mengapa seseorang berorganisasi :

  1. Kelompok atau organisasi sering dipakai untuk memecahkan masalah-masalah.
  2. Orang mungkin juga masuk kelompok karena kebutuhannya diterima dan mencegah kesepian dan kerenggangan.
  3. Kelompok juga dapat memberikan bantuan pada waktu orang menjumpai kesusahan.
  4. Kelompok member orang kesempatan untuk memuaskan kebutuhannya untuk mengungkapkan perasaannya dan melakukan hubungan dengan berbagai cara.
  5. Perasaan keamanan seseorang sering dimanfaatkan dari kelompok jika mereka mengurangi kecemasan orang dengan member dukungan, pertahanan dan perasaan diikutsertakan.
  6. Dengan bergabung dalam kelompok, seseorang merasa lebih dipandang dan lebih terhormat disbanding sendirian karena alasan status.
  7. Karena merasa terhormat bila berkelompok maka seseorang merasa mempunyai harga diri.

Pengalaman berorganisasi dimulai saat remaja saat berada si sekolah menengah kejuruan, dalam berorganisasi haruslah dipenuhi dengan rasa sungguh-sungguh terutama untuk menyatukan pendapat dari masing-masing anggota organisasi. Selain mendapat teman dari yang berbeda jurusan, pengalaman berorganisasi juga bermanfaat untuk belajar lebih disiplin terhadap waktu dan belajar percaya diri untuk berani mengemukakan pendapat di depan yang lainnya namun sangatlah sulit dalam membagi waktu untuk berorganisasi terkadang sangatlah bingung harus memilih antara tidak meninggalkan waktu belajar atau memilih untuk hadir di organisasi. Jika tidak bisa mengatur waktu dengan baik maka kurang maksimalah waktu anda saat belajar ataupun saat berorganisasi. Maka dari itu mulailah untuk memilih mana yang lebih harus diutamakan supaya waktu yang ada tidak terbuang sia-sia.

Sumber :

Sutarto. Dasar-dasar Organisasi. Jogjakarta. Gadjah Mada University Press. 2012.

Barnes, M. C. Organisasi Perusahaan Teori dan Praktek. Jakarta. PT. Pustaka Binaman Pressindo. 1981.

Wahjono, Sentot Imam. Perilaku Organisasi. Yogyakarta. Graha Ilmu. 2010.

Manusia dan Keadilan

Posted: May 28, 2013 in Uncategorized

Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat kepentingan yang besar. John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa “Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran”. Tapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai: “Kita tidak hidup di dunia yang adil”. Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum, dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak jelas. keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya.

Prinsip keadilan memiliki tempat yang sangat penting dalam Islam, sehingga untuk memiliki sifat dasar seorang muslim yaitu menjadi saleh dan bertaqwa seseorang harus berlaku adil. Sebagaiman dikatakan dalam Al Qur`an berikut :

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kamu, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan ” [QS Al Maaidah(5):8]

Lebih lagi, prinsip keadilan tetap harus dilaksanakan meskipun hal itu merugikan kepentingan sendiri atau kepentingan kerabatnya.

“Wahai orang-orang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” [QS An Nisaa(4):135]

Keadilan Sosial

Keadilan sosial berbicara tentang kesejahteraan seluruh rakyat dalam negara merdeka. Keadilan yang bisa diperoleh melalui pengadilan formal di mana saja disebut “keadilan hukum.” Keadilan hukum itu cukup sederhana, yaitu apa yang sesuai dengan hukum dianggap adil sedang yang melanggar hukum dianggap tidak adil. Jika terjadi pelanggaran hukum, maka harus dilakukan pengadilan untuk memulihkan keadilan. Dalam hal terjadinya pelanggaran pidana atau yang dalam bahasa sehari-hari disebut “kejahatan” maka harus dilakukan pengadilan yang akan melakukan pemulihan keadilan dengan menjatuhkan hukuman kepada orang yang melakukan pelanggaran pidana atau kejahatan tersebut.

Pengertian keadilan sosial memang jauh lebih luas daripada keadilan hukum. Keadilan sosial bukan sekadar berbicara tentang keadilan dalam arti tegaknya peraturan perundang-undangan atau hukum, tetapi berbicara lebih luas tentang hak warganegara dalam sebuah negara. Keadilan sosial adalah keadaan dalam mana kekayaan dan sumberdaya suatu negara didistribusikan secara adil kepada seluruh rakyat. Dalam konsep ini terkadung pengertian bahwa pemerintah dibentuk oleh rakyat untuk melayani kebutuhan seluruh rakyat, dan pemerintah yang tidak memenuhi kesejahteraan warganegaranya adalah pemerintah yang gagal dan karena itu tidak adil.

Karena Islam menganggap umat manusia sebagi satu keluarga, semua anggota keluarga ini setara dimata Allah juga dihadapan hukum yang dikeluarkan oleh Allah. Tidak ada bedanya antara kaya dan miskin, berkedudukan tinggi dan rendah, atau antara berkulit hitam dan putih. Tidak boleh ada diskriminasi karena perbedaan ras, warna kulit, atau posisi. Satu-satunya kriteria seseorang adalah karakter, kemampuan, dan baktinya terhadap kemanusiaan. Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan juga kekayaanmu, namun Allah melihat hati dan perbuatanmu”.

Keadilan Ekonomi

Konsep persaudaraan dan perlakuan setara semua individu dalam masyarakat dan dihadapan hukum tidak akan berarti kecuali diiringi dengan keadilan ekonomi dimana setiap orang mendapatkan imbalan atas kontribusinya bagi masyarakat atau munculnya produk sosial, juga tidak adanya eksploitasi seseorang oleh yang lainnya. Al Qur`an mendorong muslim untuk menjaga hal ini.

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya” [QS Asy Syua`raa (26):183]

Hal ini berimplikasi bahwa semua individu harus mendapatkan apa yang menjadi hak nya tanpa mengurangi bagian orang lain. Rasulullah dengan tepat mengingatkan : “Hati-hatilah terhadap ketidakadilan, karena ketidakadilan adalah kegelapan di hari pembalasan”

Peringatan terhadap ketidakadilan dan ekspolitasi didesain untuk melindungi hak setiap individu dalam masyarakat (baik konsumen ataupun produsen dan distributor, baik pekerja atau yang mempekerjakan), juga untuk memajukan kesejahteraan umum, yang merupakan tujuan utama Islam.

Hukum dan Keadilan di Indonesia

Sejak berakhirnya era Orde Baru, Indonesia telah menjalankan berbagai upaya reformasi hukum dan kelembagaan yang bertujuan untuk menciptakan lembaga penegakan hukum yang mampu menghasilkan pemerintahan yang bersih. Adanya penyelenggaraan kemandirian yudisial melalui yang disebut dengan ”peradilan satu atap”, pengenalan hak menguji undang-undang melalui Mahkamah Konstitusi, dan terbentuknya berbagai peradilan khusus dan komisi pengawas terhadap lembaga yudisial, kejaksaan, dan kepolisian, merupakan perubahan dalam skala yang besar.

Kendati adanya skala reformasi dan investasi yang berarti dari donor, usaha yang berkesinambungan tetaplah diperlukan untuk menjamin bahwa perubahan kelembagaan tersebut dapat membawa keadilan lebih dekat kepada masyarakat. Tingginya apatisme masyarakat terhadap sistem hukum formal menyebabkan masyarakat lebih memilih sistem keadilan informal, yang mana seringkali bersifat diskriminatif serta tidak sejalan dengan jaminan konstitusional terhadap HAM. Lembaga penegakan hukum masih menghadapi tantangan untuk menyelesaikan atau mencegah masalah yang serius yang berpengaruh terhadap berjalannya pemerintahan lokal serta pengembangan perekonomian.

Pada kenyataannya, inisiatif untuk mereformasi lembaga penegakan hukum lebih banyak berfokus pada lembaga negara formal. Akan tetapi, keadilan bukanlah semata-mata berada dalam ranah negara. Pemimpin desa dan adat yang merupakan aktor penyelesaian sengketa alternatif utama di Indonesia, memainkan peranan aktif terhadap lebih dari 75% sengketa. Namun, institusi tersebut telah dipasung selama 30 tahun di bawah pemerintahan yang sangat sentralistik. Kebutuhan untuk memperoleh keadilan bagi kelompok yang terpinggirkan, khususnya minoritas etnis dan agama serta perempuan, seringkali tidak diperhatikan dalam sistem penyelesaian sengketa di tingkat desa. Hal ini tentunya membutuhkan dukungan dan perhatian lebih.

Terkait dengan isu-isu tersebut, Pemerintah Indonesia telah mengembangkan Strategi Nasional Akses terhadap Keadilan (Stranas). Strategi ini mencoba menguji betapa persoalan-persoalan yang berhubungan dengan negara hukum (rule of law) memiliki keterkaitan dengan kemiskinan. Stranas meyoroti sebuah pendekatan yang memperkuat masyarakat miskin untuk menyadari hak-hak dasar mereka, baik melalui mekanisme formal maupun informal, sebagai sebuah cara untuk mengentaskan kemiskinan. Stranas juga menekankan bahwa reformasi penegakan hukum membutuhkan tidak hanya solusi teknis hukum semata, namun juga pendekatan sosio-politik. Saat ini, beberapa rekomendasi pokok dari Stranas sedang disatukan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (2010-2014).

Stranas memiliki rencana aksi yang mencakup delapan area kunci:

  1. Sektor Reformasi Yudisial dan Hukum
  2. Pemberian Bantuan Hukum
  3. Tata Pemerintahan Lokal
  4. Tanah dan Sumber Daya Alam
  5. Isu Gender
  6. Hak-Hak Anak
  7. Reformasi Perburuhan, dan
  8. Pemberdayaan Masyarakat Miskin dan yang Termarjinalkan

Sumber :

http://id.wikipedia.org

http://www.midori-tokodai.org/index.php?option=com_content&view=article&id=168:persaudaraan-dan-keadilan-universal&catid=45:artikel&Itemid=171

http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/COUNTRIES/EASTASIAPACIFICEXT/INDONESIAINBAHASAEXTN/0,,contentMDK:22367681~pagePK:1497618~piPK:217854~theSitePK:447244,00.html

Manusia dan Penderitaan

Posted: May 14, 2013 in Uncategorized

Penderitaan atau kesengsaraan dalam erti kata luas bermakna pengalaman afektif kesusahan and keperitan seseorang individu. Penderitaan boleh jadi berbentuk fisikalatau mental. Keamatannya berbeza-beza, daripada ringan hinggalah tidak tertahan. Faktor masa dan kekerapan lazimnya memburukkan lagi keadaan. Selain faktor-faktor ini, sikap seseorang terhadap penderitaanya mungkin mengambil kira aspek berapa banyak kesengsaraan itu, adakah ia boleh dielakkan, kegunaannya dan sama ada ia berpatutan.

Orang yang menderita adalah orang yang mengalami suatu peristiwa yang sangat menyakitkan yang tidak diharapkannya atau tidak diduganya. Dan memang itulah salah satu ciri atau karakteristik dari penderitaan yaitu penderitaan datang menimpa kita di saat kita tidak siap. Jadi kalau orang bertanya bagaimanakah mempersiapkan diri untuk menderita, saya kira jawabannya adalah kita tidak bisa benar-benar mempersiapkan diri, sebab kalau kita pikir memang kita tidak akan pernah siap untuk menderita. Sigmund Freud menelorkan suatu teorinya yang berkata bahwa manusia itu bergerak menjauhkan diri dari penderitaan atau rasa sakit dan mendekati atau mendekatkan diri pada yang nikmat, maka prinsipnya itu disebut prinsip kenikmatan. Jadi memang pada dasarnya kita makhluk yang tidak suka dengan penderitaan.

Beberapa jenis penderitaan :

  • Kita menderita karena gangguan/perbuatan iblis
  • Kita menderita karena perbuatan orang lain, kelalaian maupun kejahatan orang lain. Misalnya kita tertabrak, kita dirampok dsb.
  • Menderita karena hukuman atas perbuatan dosa.
  • Kita menderita karena kita dalam perjuangan melawan atau sedang mengatasi pencobaan.
  • Kita menderita karena alam di mana kita tinggal sudah tercemar tidak lagi berimbang. Misalnya karena bencana alam, banjir.
  • Kita menderita karena kemanusiaan kita misalnya kematian. Kematian adalah bagian dari kemanusiaan kita.

Ada beberapa tahapan yang biasa terjadi sewaktu kita mengalami musibah :

  • Kita marah sekali, tidak terima kenapa kita harus mengalami ini.
  • Menyadari bahwa penderitaan itu tidak bisa kita elakkan dan tidak bisa lagi kita tawar-menawar jadi harus kita hadapi.
  • Depresi, kita akhirnya dirundung oleh kesedihan yang luar biasa, tiba-tiba hidup kita ini tidak lagi ada artinya.
  • Penerimaan, tahap ini adalah tahap di mana kita akhirnya berhasil mengatakan ya saya menerima.

Yang perlu kita lakukan untuk menyikapi penderitaan yang menimpa kita :

  • Tidak tergesa-gesa mencari tahu siapa yang bersalah, siapa yang bertanggung jawab dalam penderitaan kita. Kita lihat dulu apa yang sedang kita derita, jenis apa setelah itu baru kita bisa menyikapinya. Kita mempunyai 3 sikap ekstrim yaitu menyalahkan Tuhan, menyalahkan orang lain dan menyalahkan diri sendiri.
  • Kita lihat dulu apa yang sedang kita derita, jenis apa setelah itu baru kita bisa menyikapinya. Misalnya adanya gempa bumi rumah kita runtuh, dalam keadaan seperti ini kita tidak usah menyalahkan siapapun, tidak menyalahkan Tuhan, tidak menyalahkan orang lain, tidak menyalahkan diri sendiri.

Siksaan atau penyiksaan (Bahasa Inggris: torture) digunakan untuk merujuk pada penciptaan rasa sakit untuk menghancurkan kekerasan hati korban. Segala tindakan yang menyebabkan penderitaan, baik secara fisik maupun psikologis, yang dengan sengaja dilakukkan terhadap seseorang dengan tujuan intimidasi, balas dendam, hukuman, sadisme, pemaksaan informasi, atau mendapatkan pengakuan palsu untuk propaganda atau tujuan politik dapat disebut sebagai penyiksaan. Siksaan dapat digunakan sebagai suatu cara interogasi untuk mendapatkan pengakuan. Siksaan juga dapat digunakan sebagai metode pemaksaan atau sebagai alat untuk mengendalikan kelompok yang dianggap sebagai ancaman bagi suatu pemerintah. Sepanjang sejarah, siksaan telah juga digunakan sebagai cara untuk memaksakan pindah agama atau cuci otak politik.

Siksaan Fisik Berpotensi Sakit Kronis. Anak-anak yg mendapatkan siksaan fisik atau emosi serta pernah diabaikan lebih berisiko mengalami migrain dan rasa sakit kronis lainnya ketika dewasa. Peneliti dari University of Toledo Medical Center di Ohio menemukan, stres akibat siksaan bisa mengganggu otak anak. Gangguan otak ini membuat mereka lebih berisiko mengalami rasa sakit kronis dari kondisi seperti sindrom gangguan usus (irritable bowel syndrome), sindrom kelelahan kronis (chronic fatigue syndrome), rasa sakit pada otot dan jaringan penghubung (fibromyalgia), interstitial cystitis (penyakit kandung kemih yg ditandai dengan rasa sakit saat buang air) dan radang sendi. “Stres di masa anak-anak bisa mengganggu respon stres tubuh secara permanen dan mempengaruhi berbagai kondisi medis dan psikologis saat dewasa,” terang pemimpin studi Dr. Gretchen E. Tietjen, seperti dikutip situs healthday. Menurut Tietjen, sangat wajar jika orang-orang yg telah disiksa mengalami berbagai kondisi yg melemahkan, termasuk migrain.

“Hubungan ini disebabkan oleh perubahan otak terkait penyiksaan yg terjadi di awal kehidupan.” Dan memahami efek penyiksaan psikologis terhadap otak, terang dia, bisa memicu tindakan pencegahan atau penemuan terapi yg lebih efektif utk mengatasi migrain dan kondisi lain yg terkait. Akan tetapi, lanjut dia, tak semua anak yg mendapatkan siksaan mengalami migrain dan tak semua penderita migrain atau kondisi sakit lainnya pernah disiksa sebelumnya. “Tapi mereka yg pernah disiksa lebih berisiko mengalami migrain berat. Mereka juga lebih berisiko menderita penyakit lain yg menimbulkan rasa sakit.”

Dalam kehidupan agama, ada dua macam penderitaan, yakni penderitaan syar’iyyah dan penderitaan samawiyah. Penderitaan syar’iyyah antara lain shalat, puasa, haji dan zakat. Untuk menjalankan shalat, manusia terpaksa menghentikan segala urusannya yang lain, apalagi kalau harus pergi ke masjid. Pada saat musim dingin, harus bangun pada waktu akhir malam menjelang fajar. Pada waktu Ramadhan, seharian penuh harus menahan lapar dan haus. Waktu menunaikan haji, harus memikul berbagai kesulitan dalam perjalanan. Dalam menunaikan zakat, harus menyerahkan sebagian hasil usaha dan cucuran keringat kepada orang lain.

Ini semua adalah penderitaan syar’iyyah, yang merupakan penyebab adanya pahala bagi manusia. Lagi pula akan memperdekat langkahnya ke arah Tuhan. Namun demikian dalam semua masalah itu manusia diberi satu kelonggaran. Manusia diperbolehkan mencari cara yang cocok dan mudah baginya. Di waktu musim dingin, boleh saja memanaskan air untuk berwudhu. Karena menderita sakit tertentu dan tidak dapat menjalankan shalat dengan berdiri, maka shalat itu dapat dilakukan dengan duduk. Pada bulan ramadhan, di waktu sahur orang dapat bangun lalu makan sepuasnya. Bahkan sebagian orang pada bulan ramadhan lebih banyak mengeluarkan biaya konsumsi daripada hari-hari biasa di luar bulan ramadhan. Jadi dalam mengalami penderitaan syar’iyyah itu, sedikit banyak manusia juga memperoleh keringanan. Oleh karena itu, dengan penderitaan syar’iyyah saja manusia belum bias mencapai kesucian ruhani secara sempurna dan tidak mungkin secepatnya meraih taraf taqarub billaah (dekat dengan Allah).

Penderitaan samawi yang turun dari langit, bila telah tiba manusia tidak berwenang untuk memilih dan menghindarinya. Mau tidak mau, manusia terpaksa harus memikul dan menanggungnya. Oleh karena itu, dengan pengalaman tersebut manusia bias mencapai tingkatan dekat dengan Allah. Untuk meningkatkan derajat manusia, ditetapkan juga penderitaan samawiyyah. Sehubungan dengan itu Allah Ta’ala menjelaskan dalam Qur’an Syarif :

“Sesungguhnya Kami akan menguji kamu dengan sesuatu dari ketakutan dan kelaparan dan kehilangan harta dan jiwa dan buah-buahan. Dan berilah kabar baik ikepada orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila suatu musibah menimpa mereka, mereka berkata: Sesungguhnya kami ini milik Allah, dan kami akan kembali kepadaNya. Inilah orang yang memperoleh karunia dan rahmat dari Tuhan mereka. Dan inilah orang yang terpimpin pada jalan yang benar” (QS AlBaqarah 2: 155-156).

Dalam ayat al-Qur’an di atas, disebutkan beberapa macam penderitaan samawi, misalnya penderitaan karena kerugian harta dalam bisnis, tokonya rusak atau kecurian. Penderitaan karena kerugian dari tanaman dan buah-buahan yang rusak karena dimakan hama. Penderitaan karena putra buah kasihnya meninggal dunia. Dalam istilah Arab, anak disebut juga tsamar (buah). Cobaan karena anak terasa amat menyusahkan. Akan tetapi Allah Ta’ala bukanlah kejam. Selama seseorang yang terlibat dalam kesulitan dan penderitaan itu sabar, maka kian bertambah kesabarannya, pahalanya juga semakin banyak. Allah Ta’ala adalah Maha pengasih lagi Maha pengampun. Allah melimpahkan penderitaan pada manusia itu bukanlah bermaksud agar manusia memikul penderitaan semata-mata, akan tetapi agar supaya manusia memajukan langkah dan semakin meningkat derajatnya. Kata para ahli sufi, bahwa di saat cobaan tiba, orang fasiq akan mengundurkan langkah (putus asa), tetapi bagi orang yang shalih akan semakin memajukan langkahnya.

Hubungan derita dengan kehidupan

Penderitaan banyak sekali hubungannya dengan alam pikiran seseorang, dan trauma-trauma masa lalu yang mengendap pada jiwanya, beberapa kaitan yang di jabarkan Suwardi Tanu dalam bukunya ‘Hidup Tenang berdasarkan DAK’ beliau menjabarkan demikian, Derita atau penderitaan muncul berkaitan dengan Rejeki, kesehatan dan harga diri.

Rasa derita yang muncul karena disebabkan oleh rejeki, umumnya lebih berkaitan dengan fisik, sebaagi contoh sederhana yang banyak bisa kita lihat, penderitaan seorang anak jalanan yang kelaparan dan hidup menderita di bawah kolong jembatan.

Rasa derita yang berkaitan dengan kesehatan, umumnya kita melihat derita penderita kanker stadium akhir, sel-sel tubuh yang memberontak dalam pertahanan hidup sendiri membuat penderitaan yang tiada tara, kesakitan, kerapuhan jiwa dan keputus-asaan menjadi rentetan penderitaan yang dialami.

Sumber :

http://id.wikipedia.org

http://mochoy2010.blogspot.com/2011/04/jenis-penderitaan-manusia.html

http://www.herbalengkap.com/76/06/60/siksaan-fisik-berpotensi-sakit-kronis.htm

http://ahmadiyah.org/hikmah-penderitaan-dalam-kehidupan/

http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2011/06/26/penderitaan-bagaimana-kita-menyikapinya-376362.html

Kemanusiaan dan Keindahan

Posted: April 30, 2013 in Uncategorized

Estetika adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni.

Keindahan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok. Keindahan dipelajari sebagai bagian dari estetika, sosiologi, psikologi sosial, dan budaya. Sebuah “kecantikan yang ideal” adalah sebuah entitas yang dikagumi, atau memiliki fitur yang dikaitkan dengan keindahan dalam suatu budaya tertentu, untuk kesempurnaannya.

Bangsa Yunani juga mengenal pengertian keindahan dalam arti estetis yang disebutnya ‘symmetria’ untuk keindahan berdasarkan penglihatan ( misalnya pada karya pahat dan arsitektur.) dan hamlonia untuk keindahan berdasarkan pendengaran (musik). Jadi pengertian keindahan yang seluas-luasnya meliputi :

-  Keindahan seni

-  Keindahan alam

-  Keindahan moral

-   Keindahan intelektual

Teori Obyektif dan Teori Subyektif

The Liang Gie dalam bukunya garis besar estetika menjelaskan, bahwa dalam mencipta seni ada dua teori yakni teori obyektif dan teori subyektif.

Salah satu persoalan pokok dari teori keindahan adalah mengenai sifat dasar dari keindahan. Apakah keindahan menmpakan sesuatu yang ada pada benda indah atau hanya terdapat dalam alam pikiran orang yang mengamati benda tersebut. Dari persoalan-persoalan tersebut lahirlah dua kelompok teori yang terkenal sebagai teori obyektif dan teon subyektif.

Pendukung teon obyektif adalah Plato, Hegel dan Bernard Bocanquat, sedang pendukung teon subyektif ialah Henry Home, Earlof Shaffesbury, dan Edmund Burke.

Teori obyektif berpendapat, bahwa keindahan atau ciri-ciri yang mencipta nilai estetik adalah sifat (kualita) yang memang telah melekat pada bentuk indah yang bersangkutan, terlepas dari orang yang mengamatinya. Teori subyektif, menyatakan bahwa ciri-ciri yang menciptakan keindahan suatu benda itu tidak ada, yang ada hanya perasaan dalam diri seseorang yang mengamati sesuatu benda. Adanya keindahan semata-mata tergantung pada pencerapan dari si pengamat itu. Yang tergolong teori subyektif ialah yang memandang keindahan dalam suatu hubungan di antara suatu benda dengan alam pikiran seseorang yang mengamatinya seperti misalnya yang berupa menyukai atau menikmati benda itu.

Teori Perimbangan

Teori obyektif memandang keindahan sebagai suatu kwalita dari benda-benda: Kwalita bagaimana yang menyebabkan sesuatu benda disebut indah telah dijawab oleh bangsa Yunani Kuno dengan teori perimbangan yang bertahan sejak abab 5 sebelum Masehi sampai abab 17 di Empa. Sebagai contoh bangunan arsitektur Yunani Kuno yang berupa banyak tiang besar.

Teori perimbangan tentang keindahan dari bangsa Yunani Kuno dulu dipahami pula dalam arti yang lebih terbatas, yakni secara kualitatif yang diungkapkan dengan angka-angka. Keindahan dianggap sebagai kualita dari benda-benda yang disusun (yakni mempunyai bagian-bagian). Bangsa Yunani menemukan bahwa hubungan-hubungan matematik yang cermat sebagaimana terdapat dalam ilmu ukur dan berbagai pengukuran proporsi ternyata dapat diwujudkan dalam benda-benda bersusun yang indah.

Teori perimbangan berlaku dari abad ke-5 sebelum masehi sampai abad ke 17 masehi selama 22 abad. Teori tersebut runtuh karena desakan dari filsafat empirisme dan aliran-aliran termasuk dalam seni. Bagi mereka keindahan hanyalah kesan yang subyektif sifatnya.

Keindahan hanya ada pada pikiran orang yang menerangkannya dan setiap pikiran melihat suatu keindahan yang berbeda-benda. Para seniman romantik umumnya berpendapat bahwa keindahan sesungguhnya tercipta dan tidak adanya keteraturan, yakni tersusun dari daya hidup, penggambaran, pelimpahan dan pengungkapan perasaan. Karena itu tidak mungkin disusun teori umum tentang keindahan.

Hakekat keindahan yang paling esensial sangat ditentukan antara lain oleh;

  1. Rasa menyenangkan dan menimbulkan rasa senang.
  2. Adanya hubungan antara bagian-bagian sebagai suatu keseluruhan (obyek, sub okyeb,subyek,sub subyek,subyek-obyek, dan obyek-subyek) sebagai suatu kesatuan didalam suatu keseluruhan.
  3. Tercakup unsur kebaikan, sehingga dapat memupuk rasa kemoralan.
  4. Sebaliknya antara keindahan dan kebaikan tidak  saling berhubungan namun memiliki keterdekatan. Karena intisari mutlak dari hakekat yang indah itu harus baik, mengandung keharmonisan, nyata dan teraga, berguna serta lebih bermanfaat.
  5.  Harus terkait dengan nilai-nilai spiritual, moral, dan agama.

Apakah kecantikan merupakan bagian dari keindahan seorang manusia ? Jawabannya mungkin iya, sebab jika dikembalikan lagi menurut kamus besar bahasa indonesia keindahan adalah yang enak dipandang. Jadi kecantikan termasuk dalam keindahan seseorang dimana kecantikan sejati itu tidak diukur berdasarkan seberapa bagus kita berpakaian dengan merek terkenal dan dengan harga yang mahal atau seberapa banyak dia menggunakan kosmetik atau sebanyak apa dia menggunakan perhiasan, tetapi kecantikan sejati itu dilihat dari dalam diri seorang wanita atau yang biasa disebut dengan inner beauty. Inner beauty adalah kecantikan akan kepribadiaan, baik yang terpancar dari hati, pemikiran, maupun tingkah polah yang mencerminkan keanggunan seorang wanita. Sedangkan mereka yang cantik luarnya tetapi kurang memiliki inner beauty, maka akan terhapuslah kecantikan luarnya tersebut yang merupakan anugerah baginya. Sering kita temui dalam kehidupan ini, seorang wanita yang tak begitu cantik parasnya tetapi memiliki keindahan akhlak serta kepribadiaan yang dimilikinya akan lebih berkesan manis bila dibandingkan dengan wanita yang cantik parasnya tetapi tak baik akhlak serta pribadinya.

Lalu bagaimanakah pandangan seseorang tentang inner beauty ini? Inner beauty memiliki makna yang dalam dan pemahaman luas, namun kita dapat mengartikan bahwa wanita yang memiliki inner beauty diantaranya adalah wanita yang mempunyai intelegensi dan prestasi yang dapat memberikan maanfaat bagi dirinya serta orang lain, memiliki keindahan akhlak dan menjadikan hatinya seluas samudera yang takkan pernah goyah dengan segala hal yang terjadi pada dirinya walau pedih ia rasakan, murah senyum & rendah hati, suka menolong serta sifat-sifat baik lain yang membentuk kepribadian yang mempesona. Untuk itu, inner beauty akan terpancar dengan sendirinya apabila ia selalu berupaya untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi sekitarnya dan memberikan kebahagiaan terutama untuk kerabat yang ia sayangi. Pasalnya, inner beauty itu sendiri akan nampak tatkala dirinya berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya , yang semuanya berasal dari hati dan pikirannya yang terealisasikan dalam segala tindakan seperti apa yang diucapkannya dan segala hal yang ia lakukan.

Apakah kecantikan merupakan bagian dari keindahan seorang manusia ? Jawabannya mungkin iya, sebab jika dikembalikan lagi menurut kamus besar bahasa indonesia keindahan adalah yang enak dipandang. Jadi kecantikan termasuk dalam keindahan seseorang dimana kecantikan sejati itu tidak diukur berdasarkan seberapa bagus kita berpakaian dengan merek terkenal dan dengan harga yang mahal atau seberapa banyak dia menggunakan kosmetik atau sebanyak apa dia menggunakan perhiasan, tetapi kecantikan sejati itu dilihat dari dalam diri seorang wanita atau yang biasa disebut dengan inner beauty. Inner beauty adalah kecantikan akan kepribadiaan, baik yang terpancar dari hati, pemikiran, maupun tingkah polah yang mencerminkan keanggunan seorang wanita. Sedangkan mereka yang cantik luarnya tetapi kurang memiliki inner beauty, maka akan terhapuslah kecantikan luarnya tersebut yang merupakan anugerah baginya. Sering kita temui dalam kehidupan ini, seorang wanita yang tak begitu cantik parasnya tetapi memiliki keindahan akhlak serta kepribadiaan yang dimilikinya akan lebih berkesan manis bila dibandingkan dengan wanita yang cantik parasnya tetapi tak baik akhlak serta pribadinya.

Bentuk-bentuk kecantikan dari dalam :

  • Keluhuran Akhlak Pekerti. Naluri setiap manusia adalah seburuk apapun dirinya, pasti tetap menginginkan pasangannya adalah sosok yang baik dalam segala hal temasuk akhlak. Secantik apapun fisik anda, tanpa dibarengi dengan keluhuran akhlak pekerti niscaya tak akan memberikan nilai penghargaan yang sejati dari seorang lelaki terhadap diri anda.
  • Kecerdasan. Seorang wanita yang cerdas dan luas wawasan akan selalu konek dengan hal-hal yang sedang diperbincangkan oleh lawan bicaranya. intelektualitas menjadi salah satu tolak ukur kecantikan dari dalam diri yang dimiliki seorang wanita.
  • Mudah Bergaul. Wanita yang memiliki kemampuan bergaul yang baik akan lebih disukai oleh banyak hal. Meskipun dalam bergaul tersebut seorang wanita pandai menempatkan diri. Jika ia berada pada lingkungan yang tak baik bagi dirinya, maka ia mampu membatasi dirinya. Sebaliknya ia justru mampu menularkan kepribadian baiknya pada orang lain. Inilah sosok wanita yang memiliki kecantikan dari dalam diri yang bersinar

Kecantikan dari dalam memang tidak bisa dirawat melalui berbagai macam treatment seperti facial, lulur, dll tetapi kecantikan dari dalam akan muncul dengan sendirinya. Seorang wanita yang secara fisik tidak terlalu cantik pun bila memiliki kepribadian yang menyenangkan pasti akan terlihat cantik.

Sumber :

http://hadi27.wordpress.com/rangkuman-manusia-dan-keindahan-serta-manusia-dan-penderitaan/

http://www.katailmu.com/2013/03/hakikat-keindahan.html

http://filsafat.kompasiana.com/2009/12/25/inner-beauty-43462.html

http://www.anneahira.com/kecantikan-dari-dalam.htm

http://id.wikipedia.org

Kemanusiaan dan Cinta Kasih

Posted: April 21, 2013 in Uncategorized

Manusia adalah makhluk hidup yang diciptakan berbeda dengan makhluk hidup lainnya, manusia diberi akal dan pikiran, mereka bisa menempatkan antara yang baik dan yang buruk. Manusia juga memiliki hati dan perasaan dimana mereka bisa merasakan bahagia, sedih, marah, dan yang paling sering dialami manusia saat ini adalah mudahnya memiliki perasaan cinta manusia terhadap objek lain berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.

Cinta adalah suatu perasaan yang positif dan diberikan pada manusia atau benda lainnya. Bisa dialami semua makhluk. Penggunaan perkataan cinta juga dipengaruhi perkembangan semasa. Perkataan sentiasa berubah arti menurut tanggapan, pemahaman dan penggunaan di dalam keadaan, kedudukan dan generasi masyarakat yang berbeda.

Hakikat cinta yang sebenarnya ialah ketika cinta dapat membawa seseorang ke dalam taman syurga, tanpa harus melupakan segalanya. Kita boleh saja mencintai sesuatu dan bahagia karenanya, lantas jangan karena cinta yang begitu besar, membuat kita lupa akan hal lainnya. Cinta yang sejati, ialah cinta yang disandarkan kepada Allah SWT Sang Pemilik Cinta Sejati. Dengan demikian, akan terbentuklah segenap cinta rasionalis, cinta yang tidak membabi buta yang menyebabkan kita buta karenanya.

Ungkapan cinta mungkin digunakan untuk meluapkan perasaan sebagai berikut

1. Cinta kepada Allah

Cinta kepada Allah merupakan puncak cinta manusia. Hal tersebut dapat mendorong seorang manusia untuk menuju jalan yang baik dan benar, ibadah bukan lagi suatu kewajiban tapi suatu kebutuhan yang harus dipenuhi agar senantiasa cinta kepada Allah tidak akan pudar.

2. Cinta kepada Orang Tua

Cinta orang tua terhadap anaknya begitu besar dan tulus. Sebagai anak kita harus menuruti apa perkataan orang tua, sebab cinta mereka kepada sang anak begitu ikhlas tanpa meinta pamrih dan kita pun tidak akan tau seberapa besarnya cinta orang tua kepada anak sebelum kita menjadi orang tua

3. Cinta kepada Diri Sendiri

Cinta kepada diri sendiri disebut narsisme atau perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Narsisisme memiliki sebuah peranan yang sehat dalam artian membiasakan seseorang untuk berhenti bergantung pada standar dan prestasi orang lain demi membuat dirinya bahagia. Namun jika berlebihan dapat menyebabkan kelianan, kelainan kepribadian atau bisa disebut juga penyimpangan kepribadian merupakan istilah umum untuk jenis penyakit mental seseorang, dimana pada kondisi tersebut cara berpikir, cara memahami situasi dan kemampuan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi normal. Kondisi itu membuat seseorang memiliki sifat yang menyebabkannya merasa dan berperilaku dengan cara-cara yang menyedihkan, membatasi kemampuannya untuk dapat berperan dalam suatu hubungan. Seseorang yang narsis biasanya memiliki rasa percaya diri yang sangat kuat, namun apabila narsisme yang dimilikinya sudah mengarah pada kelainan yang bersifat patologis, maka rasa percaya diri yang kuat tersebut dapat digolongkan sebagai bentuk rasa percaya diri yang tidak sehat, karena hanya memandang dirinya lah yang paling hebat dari orang lain tanpa bisa menghargai orang lain.

4. Cinta kepada sesama makhluk hidup

Kita diciptakan untuk saling menyayangi sesame makhluk ciptaan Tuhan seperti tanaman dan tumbuhan sebab diantara makhluk ciptaan Tuhan yang lain saling bergantung satu sama lain. Makhluk ciptaan Tuhan yang lain juga diciptakan untuk melestarikan lingkungan, kita sebagai manusia tidak semestinya untuk membuat punah makhluk ciptaan Tuhan yang lain sebab dapat membuat kerusakan pada lingkungan.

5. Cinta Erotis

Cinta ini banyak terjadi pada saat usia remaja, dimana saat remaja mengalami masa pubertas. Pada masa transisi ini rasa ingin tahu terhadap lawan jenis sangan besar, namun cinta ini membutuhkan control supaya tidak terjerumus kedalam hal-hal yang melanggar norma.

6. Cinta kepada Bangsa dan Negara

Sebagai warga Negara kita harus mencintai tanah air tempat dimana kita di lahirkan dan di besarkan. Kita harus mentaati peraturan yang dibuat oleh negara sebagaimana mestinya, peraturan dibuat bukan untuk dilanggar tetapi dipatuhi, selain itu kita juga harus wajib membayar pajak sebagai wujud cinta kita terhadap tanah air. Lihat apa yang kita lakukan untuk negara, bukan apa yang negara lakukan untuk kita.

Menurut Erich Frimm, ada lima syarat untuk mewujudkan cinta kasih, yaitu:

  • Perasaan
  • Pengenalan
  • Tanggung jawab
  • Perhatian
  • Saling menghormati

Cinta antar pribadi menunjuk kepada cinta antara manusia. Bentuk ini lebih dari sekedar rasa kesukaan terhadap orang lain. Cinta antar pribadi bisa mencakup hubungan kekasih, hubungan orangtua dengan anak, dan juga persahabatan yang sangat erat yang memiliki unsur kasih sayang.

Kasih sayang merupakan sesuatu paling mendasar yang diterima setiap insane. Kasih sayang juga bisa dikatakan sebagai suatu hak yang harus diterima, karena secara psikologi sangat berpengaruh dalam tumbuh kembangnya sesorang. Kasih sayang yang tulus selalu punya sifat yang ikhlas dan lebih banyak member daripada menerima. Kepentingan diri sendiri sering dinomor duakan demi memberi kebahagiaan pada orang yang dikasih dan disayanginya.

Dalam makna lain, kasih sayang merupakan rasa yang didambakan setiap insan didunia. Salah satunya adalah kasih sayang seorang ibu kepada anaknya dan sebaliknya. Rasa kasih sayang tersebut akan muncul ketika ada perasaan iba dan simpatik dalam diri kepada yang dikasihi. Namun munculnya rasa kasih sayang tersebut tidak bisa dibuat-buat, tetapi muncul dengan sendirinya tanpa direkayasa. Setiap insan ingin dirinya disayangi, sayangilah orang lain. Jangan merasakan rasa sayang tersebut. Apabila sifat sayang tersebut mulai luntur dan sifat dendam makin besar, akan menjanjikan kehancuran bagi suatu bangsa maupun masyarakat.

Kasih sayang dan cinta merupakan anugerah dari Tuhan yang diberikan kepada kita semua. Tujuannya untuk menciptakan kedamaian dan keharmonisan di dunia agar selalu diliputi ketentraman. Setiap orang harus mengerti makna kasih sayang agar bisa menghargai kepribadian dari orang lain, meski orang lain tersebut mempunyai perbedaan dengan kita. Apabila seseorang telah memiliki rasa kasih sayang terhadap sesuatu, maka orang tersebut akan melakukan apa saja yang bisa diperbuat untuk menunjukan seberapa besar rasa sayangnya tersebut. Rasa kasih sayang selalu melahirkan kesediaan untuk berkorban. Tidak heran bila muncul sebuah ungkapan bahwa cinta adalah pengorbanan.

Harta yang paling berharga adalah keluarga, istana yang paling indah adalah keluarga. Kasih sayang yang paling indah adalah terhadap keluarga. Hal ini dikarenakan di dalam keluarga setiap orang akan merasakan perasaan tentram dan damai. Setiap manusia pasti mencintai anggota keluarganya tanpa alasan apapun. Setiap orang akan selalu berusaha menjaga keluarganya dari apapun itu.

Seorang yang didik penuh kasih sayang akan menjadi individu yang baik, tetapi akan berbeda dengan orang yang kekurangan kasih sayang. Orang yang kekurangan kasih sayang akan melakukan hal-hal negatif yang merugikan dirinya sendiri bahkan orang lain, hal itu dilakukan agar orang tersebut agar dapat perhatian dari keluarga terutama orang tuanya. Agar di dalam suatu keluarga bisa tercipta rasa saling sayang dan mengasihi, masing-masing anggota keluarga harus selalu berusaha menciptakan kebahagiaan bagi anggota keluarga yang lain. Hal ini akan menyuburkan perasaan saling terikat antara satu dan yang lain dan menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ini semua bisa terlaksana bila setiap anggota keluarga terutama orang tua bisa menjadi contoh yang baik bagi setiap anaknya.

Hidup akan terasa indah bila kita selalu diliputi dengan saling mencinta, saling member kasih dan saling menyayangi tanpa memandang perbedaan baik itu warna kulit, agama, kehidupan social, ekonomi dan lain-lain.

Sumber :

http://www.anneahira.com/makna-kasih-sayang.htm

http://id.wikipedia.org

http://pendiputra.wordpress.com/2010/07/16/22/#_ftn1

Ilmu Budaya Dasar dalam Kesusastraan

Secara sederhana IBD adalah pengetahuan yang diharapkan dapat membcrikan pengetahuan dasar dan pengcrtian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah dan kebudayaan.

Secara umum tujuan Ilmu Budaya Dasar adalah Pembentukan dan pengembangan keperibadian serta perluasan wawasan perhatian, pengetahuan dan pemikiran mengenai berbagai gejala yang ada dan timbul dalam lingkungan, khususnya gejala-gejala berkenaan dengan kebudayaan dan kemanusiaan, agar daya tanggap, persepsi dan penalaran berkenaan dengan lingkungan budaya dapat diperluas.

Penyajian Ilmu Budaya Dasar  tidak lain merupakan usaha yang diharapkan dapat memberikan pe­ngetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji msalah-masalah manusia dan kebudayaan, Dengan demikian jelas bahwa ini tidak dimaksudkan untuk mendidik seorang pakar dalam salah satu bidang keahlian (disiplin) yang termasuk dalam pengetahuan budaya, akan tetapi Ilmu Budaya Dasar semata-mata sebagai salah satu usaha mengembangkan kepribadian dengan cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan kritikalnya terhadap nilai-nilai budaya, baik yang menyangkut orang lain dan alam sekitar­nya, maupun yang menyangkut dirinya sendiri.

Kesusastraan

Secara etimologi (menurut asal-usul kata) kesusastraan berarti karangan yang indah. “sastra” (dari bahasa Sansekerta) artinya : tulisan, karangan. Akan tetapi sekarang pengertian “Kesusastraan” berkembang melebihi pengertian etimologi tersebut. Kata “Indah” amat luas maknanya. Tidak saja menjangkau pengertian-pengertian lahiriah tapi terutama adalah pengertian-pengertian yang bersifat rohaniah. Misalnya, bukankah pada wajah yang jelak orang masih bisa menemukan hal-hal yang indah.

Proses Penciptaan Kesusastraan

Seorang pengarang berhadapan dengan suatu kenyataan yang ditemukan dalam masyarakat (realitas objektif). Realitas objektif itu dapat berbentuk peristiwa-peristiwa, norma-norma (tata nilai), pandangan hidup dan lain-lain bentuk-bentuk realitas objektif itu. Ia ingin memberontak dan memprotes. Sebelum pemberontakan tersebut dilakukan (ditulis) ia telah memiliki suatu sikap terhadap realitas objektif itu. Setelah ada suatu sikap maka ia mencoba mengangankan suatu “realitas” baru sebagai pengganti realitas objektif yang sekarang ia tolak. Hal inilah yang kemudian ia ungkapkan di dalam ciptasastra yang diciptakannya. Ia mencoba mengutarakan sesuatu terhadap realitas objektif yang dia temukan. Ia ingin berpesan melalui ciptasastranya kepada orang lain tentang suatu yang ia anggap sebagai masalah manusia.

Ada beberapa bentuk kesusastraan, yaitu

  • Pusisi
  • Cerita Rekaan (fiksi)
  • Essay dan Kritik
  • Prosa
  • Drama

Puisi

Dipandang dari segi bangunan bentuknya pada umumnya puisi dianggap sebagai pemakaian atau penggunaan bahasa yang intensif; oleh karena itu minimnya jumlah kosa kata yang digunakan dan padatnya struktur yang dimanipulasikan,namun justru karena itu berpengaruh kita dalam menggerakkan emosi pembaca karena gaya penuturan dan daya lukisnya. Bahasa puisi dikatakan lebih padat lebih indah, lebih cemerlang dan hidup (compressed, picturesque, vivid) daripada bahasa prosa atau percakapan sehari-hari.

Dipandang dari segi isinya puisi yang bagus merupakan ekspresi yang paling benar (genuine expression) atas kcseluruhan kepri-badian manusia dan kerena itu ia dapat menyampaikan secara luar biasa keinsyafan pikiran dan hari manusia tehadap pcngalaman dan peristiwa kehidupan.

Prosa

Prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme  yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa Latin “prosa” yang artinya “terus terang”. Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya.prosa juga dibagi dalam dua bagian,yaitu prosa lama dan prosa baru,prosa lama adalah prosa bahasa indonesia yang belum terpengaruhi budaya barat,dan prosa baru ialah prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apa pun.

Prosa fikis

Yang dimaksud nilai-nilai dalam prosa fiksi adalah persepsi dan pengertian yang diperoleh pembaca lewat sastra (prosa fiksi). Hendaknya disadari bahwa tidak semua pembaca dapat mem-peroleh persepsi dan pengertian tersebut. Ini hanya dapat di­peroleh pembaca, apabila sastra menyentuh diririya. Nilai ter­sebut tidak akan diperoleh secara otomatis dari membaca. Dan hanya pembaca yang berhasil mendapat pengalaman sastra saja yang dapat merebut nilai-nilai dalam sastra.

Faktor sejarah dan lingkungan seringkali dapat dibuktikan ada kaitannya dengan sebuah cipta sastra (fiksi). Dengan kata lain kekuatan-kekuatan di dalam masyarakat atau ling­kungan itulah justru memiliki pengaruh yang kuat pada diciptakanya sebuah karya prosa fiksi. Sehingga kejadian-kejadian yang bersamaan dalam proses pembuatan sebuah karya prosa fiksi seringkali menjadi ide dan inspirasi dari pengarangnya.

Prosa biasanya dibagi menjadi empat jenis:

  • Prosa naratif
  • Prosa deskriptif
  • Prosa eksposisi
  • Prosa argumentatif

Sumber :

http://bayu96ekonomos.wordpress.com/modul-sim/modul-ibd/

http://nesaci.com/pengertian-kesusastraan-dan-jenis-jenis-kesusastraan/

Manusia dan Kebudayaan

Posted: March 12, 2013 in Uncategorized

Manusia

Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti “manusia yang tahu”), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup, dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.

Populasi

Dalam kurun waktu 200 tahun dari 1800 sampai 2000, populasi dunia telah bertambah pesat dari satu hingga enam milyar. Diperkirakan mencapai puncaknya kira-kira sepuluh milyar selama abad ke-21. Sampai 2004, sebuah minoritas yang cukup besar, sekitar 2.3 dari jumlah 6.3 milyar jiwa tinggal di sekeliling daerah perkotaan. Urbanisasi diperkirakan akan melonjak drastic selama abad ke-21. Polusi, criminal dan kemiskinan hanyalah beberapa contoh dari masalah yang dihadapi oleh manusia yang tinggal di kota dan pemukiman pinggiran kota

Ciri-Ciri Manusia :

- Warna kulit

- Warna rambut

- Bentuk hidung

- Bentuk dagu

- Bentuk bibir

- Bentuk mata

- Tinggi badan

- Berat badan

- Ukuran bentuk kepala

Kelebihan karakter manusia :

Komit Jiwa sosial Sabar Pemaaf
Setia (tugas) Setia (orang) Toleran Positif
Visionaris Perfeksionis Kooperatif Bersahabat
Logis Tulus Menerima Optimis
Pemimpin Jujur Obyektif Percaya
Fokus Penuh tekad Seimbang Menghargai
Tanggungjawab Bermoral Pendengar Terbuka

 

 

 

 

 

 

Kekurangan karakter manusia :

Sombong Paling benar Takut-takut Tidak komit
Tidak peka Menghakimi Diam-diam keras kepala Tidak konsisten
Pendengar yang buruk Mudah depresi Tidak jujur secara emosional Banyak tingkah
Tidak taktis Suka mengatur Malas Tidak tanggung jawab
Pemberontak Sukar memaafkan Menyendiri Pemberontak
Kritis (orang lain) Curiga Tergantung Egois
Tidak sabar Tidak rasional Tidak punya arah Permisif

 

Kebudayaan

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Unsur-unsur kebudayaan :

- Alat-alat teknologi

- Sistem ekonomi

- Keluarga

- Kekuasaan politik

- Sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk  menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya

- Organisasi ekonmi

- Alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas petugas untuk pendidikan

- Organisasi kekuatan

Kebudayaan Barat

Konsep budaya Barat umumnya terkait dengan definisi klasik dari Dunia Barat. Dalam definisi ini, kebudayaan Barat adalah himpunan sastra, sains, politik, serta prinsip-prinsip artistik dan filosofi yang membedakannya dari peradaban lain. Sebagian besar rangkaian tradisi dan pengetahuan tersebut umumnya telah dikumpulkan dalam kanon Barat. Istilah ini juga telah dihubungkan dengan negara-negara yang sejarahnya amat dipengaruhi oleh imigrasi atau kolonisasi orang-orang Eropa, misalnya seperti negara-negara di benua Amerika dan Australasia, dan tidak terbatas hanya oleh imigran dari Eropa Barat. Eropa Tengah juga dianggap sebagai penyumbang unsur-unsur asli dari kebudayaan Barat.

Beberapa kecenderungan yang dianggap mendefinisikan masyarakat Barat moderen, antara lain dengan adanya pluralisme politik, berbagai subkultur atau budaya tandingan penting (seperti gerakan-gerakan Zaman Baru), serta peningkatan sinkretisme budaya sebagai akibat dari globalisasi dan migrasi manusia.

Dampak negatif budaya barat :

- Pengaruh kuat media informasi elektronika dan cetak yang mudah dicerna dengan tingkat kesulitan sensor yang tinggi.

- Kurangnya pendidikan agama sebagai kunci control diri remaja dalam menghadapi sikap negatif lingkungan sekitar.

- Minimnya pengetahuan yang bisa dinikmati melalui pendidikan yang layak.

- Kekurangan rasa percaya diri dalam pergaulan hingga mudah terpengaruh oleh lingkungan yang buruk, di tambah minimnya keterampilan untuk mengembangkan potensi diri kea rah yang lebih baik.

Mengatasi pengaruh kebudayaan barat terhadap kebudayaan dalam negri dibutuhkan peran tidak hanya dari peran pemerintah, tetapi tokoh masyarakat juga diharapkan mampu melestarikan kebudayan dalam negri. Pemerintah diharapkan melakukan konsepsi penanggulangan dampak negatif globalisasi pada nilai-nilai budaya bangsa.

Sumber :

http://id.wikipedia.org

http://wapannuri.com/a.karakter/kelebihan_dan_kekurangan_karakter_manusia.html

http://www.anneahira.com/pengaruh-budaya-barat-901.htm

Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Kemiskinan

Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya.

Syarat-syarat ilmu

Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus tentang apa penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu.

  1. Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, sehingga disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
  2. Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensinya, harus ada cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
  3. Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , dan mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
  4. Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.

Teknologi

Penggunaan teknologi oleh manusia diawali dengan pengubahan sumber daya alam menjadi alat-alat sederhana. Penemuan prasejarah tentang kemampuan mengendalikan api telah menaikkan ketersediaan sumber-sumber pangan, sedangkan penciptaan roda telah membantu manusia dalam beperjalanan dan mengendalikan lingkungan mereka. Perkembangan teknologi terbaru, termasuk di antaranya mesin cetak, telepon, dan Internet, telah memperkecil hambatan fisik terhadap komunikasi dan memungkinkan manusia untuk berinteraksi secara bebas dalam skala global. Tetapi, tidak semua teknologi digunakan untuk tujuan damai; pengembangan senjata penghancur yang semakin hebat telah berlangsung sepanjang sejarah, dari pentungan sampai senjata nuklir.

Teknologi telah memengaruhi masyarakat dan sekelilingnya dalam banyak cara. Di banyak kelompok masyarakat, teknologi telah membantu memperbaiki ekonomi (termasuk ekonomi global masa kini) dan telah memungkinkan bertambahnya kaum senggang. Banyak proses teknologi menghasilkan produk sampingan yang tidak dikehendaki, yang disebut pencemar, dan menguras sumber daya alam, merugikan dan merusak Bumi dan lingkungannya. Berbagai macam penerapan teknologi telah memengaruhi nilai suatu masyarakat dan teknologi baru seringkali mencuatkan pertanyaan-pertanyaan etika baru. Sebagai contoh, meluasnya gagasan tentang efisiensi dalam konteks produktivitas manusia, suatu istilah yang pada awalnynya hanya menyangku permesinan, contoh lainnya adalah tantangan norma-norma tradisional., bahwa keadaan ini membahayakan lingkungan dan mengucilkan manusia.

Dampak Teknologi

Berikut ini beberapa hal yang menjadi dampak positif perkembangan Teknologi Informasi.

  • Mempercepat akses informasi.
  • Mempermudah penyelesaian tugas atau pekerjaan.
  • Mempermudah proses komunikasi kapanpun dan dimanapun.
  • Mempermudah dalam kepentingan bisnis.

Sementara itu dampak negatif perkembangan Teknologi Informasi antara lain.

  • Kekerasan dan pornografi.
  • Kemudahan transaksi bisnis illegal seperti bisnis narkoba.
  • Munculnya kejahatan melalu media teknologi seperti penipuan.
  • Munculnya plagiatisme atau pembajakan hak cipta.

Kemiskinan

Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan,dll.

Penyebab Kemiskinan

  • Penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin.
  • Penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga.
  • Penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar.
  • Penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi.
  • Penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial.

Menghilangkan Kemiskinan

  • Bantuan kemiskinan, atau membantu secara langsung kepada orang miskin. Ini telah menjadi bagian pendekatan dari masyarakat Eropa sejak zaman pertengahan.
  • Bantuan terhadap keadaan individu. Banyak macam kebijakan yang dijalankan untuk mengubah situasi orang miskin berdasarkan perorangan, termasuk hukuman, pendidikan, kerja sosial, pencarian kerja, dan lain-lain.
  • Persiapan bagi yang lemah. Daripada memberikan bantuan secara langsung kepada orang miskin, banyak negara sejahtera menyediakan bantuan untuk orang yang dikategorikan sebagai orang yang lebih mungkin miskin, seperti orang tua atau orang dengan ketidakmampuan, atau keadaan yang membuat orang miskin, seperti kebutuhan akan perawatan kesehatan.

Sumber : http//:www.id.wikipedia.org